17 Maret 2020

Indonesia Tak Siap Hadapi Corona? Curhat Seorang Suspect Covid-19

Tipsiana.com - Seorang pasien suspect Corona menceritakan kegelisahannya soal penanganan pasien corona di Indonesia. Fachri Muchtar mengaku kuatir dengan pengalamannya selama berada dalam penanganan suspect Corona yang ia anggap sangat jauh dari siap. Rumah sakit rujukan di Indonesia terkesan gagap dan kurang fasilitas dalam menghdapi Pandemi ini. Berikut cuitannya di Twitter.

Gua resah dengan kondisi saat ini, gua pengen speak up sebagai pasien suspect Covid-19. Gua akan cerita tentang pengalaman gua sebagai pasien di salah satu RS Rujukan di Jakarta dan keresahan gua terkait corona.

a thread!!


Baru aja semalam gua dinyatakan sama dokter sebagai pasien suspect corona. Gejala yang gua alamin ya demam, batuk, sesak nafas, pilek, sakit tenggorokan sama lemas. FYI gua lagi karantina mandiri di rumah, setelah sebelumnya di rawat di ruang isolasi IGD.

Jadi gua masuk RS tuh kemaren sore, setelah sakit sesak dan batuk gua ga kunjung membaik padahal udh minum obat dokter. Akhirnya gua putuskan buat pergi ke RS Rujukan. Sampe sana langsung masuk IGD buat diperiksa, mulai dari ditanya-tanya, cek darah sampe rontgen paru.

Habis gua rontgent paru, gua dipindahkan lah ke ruang dekontaminasi, itu isinya orang batuk semua. Pokoknya batuk, mau dia terindikasi corona atau enggak digabung disitu. Satu ruangan bisa berisi 4-5 orang dengan ukuran ruangan yang gua kira paling 2x3 meter.
Fachri Muchtar

Di ruangan itu, ada 3 pasien tidur di ranjang pasien dan 2 orang duduk di kursi roda karena ga muat.
Fachri Muchtar

Nah, setelah nunggu beberapa jam (mungkin sekitar 1-2 jam), gua dikabarkan kalo gua adalah pasien suspect Covid-19 berdasarkan gejala dan riwayat perjalanan gua. Akhirnya gua dipindahkan ke ruang khusus isolasi pasien Covid-19.

Selain gua, ada satu lagi seorang bapak yang juga dipindahkan karena beliau sama kaya gua, pasien suspect covid-19.
Fachri Muchtar

Mau tau gimana kondisi ruangannya? ruangan isolasi ini diisi sama 6 orang pasien dengan kriteria sakit beda-beda. Mulai dari yang keliatan sehat sampe yang batuknya sering tuh ada, dicampur di ruang itu. https://amp.kompas.com/megapolitan/read/2020/03/16/08104271/satu-malam-berkerumun-di-ruang-isolasi-rsud-pasar-minggu selengkapnya lu bisa baca berita kompas itu.

Oiya, di ruangan itu cuman ada 3 bed kasur, sedangkan pasiennya ada 6. Jadi terpaksa sebagian harus duduk di kursi roda. Gua sendiri duduk di kursi roda dari di ruang dekontaminasi sampe baru dapat kasur tadi pagi.

Lanjut ya, dari 6 orang tersebut, 2 diantaranya malam itu langsung dirujuk ke RS Rujukan yang lain. Sedangkan sisanya menunggu kamar isolasi rawat inap kosong atau ada RS Rujukan lain yang mau nerima, sedangkan kondisinya semua RS Rujukan tuh penuh.


Akhirnya gua dan 3 orang lainnya cuman bisa saling ngobrol aja sambil nunggu kepastian kapan kita di tes swab (tes corona) dan kepastian ruangan.

Akhirnya, sekitar jam 11 siang kita di tes swab oleh tim dokter. Hasil tes swab baru bisa diketahui paling cepet 3 hari. Lama banget ga tuh? Mangkanya ga heran di mata najwa Gub DKI sama Gub Jabar pengen tes mandiri. Soalnya kalo nunggu pusat lama banget.

Oiya, setelah tes swab kita semua dianjurkan untuk pulang dan karantina mandiri di rumah sambil nunggu hasil. Kalo positif, ya kita bakal dijemput pake ambulans. Ini juga dilakukan karena jumlah ruang isolasi terbatas, sedangkan jumlah pasien suspect dan positif terus nambah.

Tadi gua sempet ngobrol juga sama dokternya, dan dia mengakui kalo Indonesia tuh ga siap ngadapin corona. Sangat gagap bahkan dalam pelayanan medis. Dengan metode tes swab yang kayak sekarang, ga heran kalo banyak yang underdiagnosed.

Kenapa gua bilang banyak yang underdiagnosed (Jumlah angka official jauh lebih kecil dr jumlah kasus real di lapangan) ? ya karena ga semua orang bisa ngecek dan mau ngecek. Fasilitas kita masih sangat terbatas, bahkan petugas medis yang nanganin pasien aja gabisa tes swab.

Kenapa sih ini semua bisa terjadi? ya karena Indonesia tuh SOMBONG! Sangat meremehkan virus ini ketika pertama kali muncul di Wuhan. Alih-alih mempersiapkan dengan serius, kita malah jadikan bahan bercandaan dan menantang riset havard yang bilang virus ini sudah ada di Indonesia.

Pada awal-awal virus ini muncul, kita lebih memilih buat bayar influencer 72M dan kasih diskon pesawat. Disaat negara lain serius memandang corona, negara ini malah meremehkan. Jangan heran kalo sekarang kita gagap menangani ini. Karena kita ga siap!

Bahkan ketika Covid-19 sudah mulai mewabah di Indonesia, Menkes kita masih sempat-sempatnya mengedepankan hal simbolik, seperti pengangkatan Duta Imunitas Corona Sejati, daripada konkret membenahi masalah pelayanan kesehatan kita.


Oiya, gua melakukan pengetesan ini atas inisiatif pribadi, Karena bagi gua, disaat respon negara yang lama. Kita sebagai warga negara harus pro-aktif. Gua gamau tanpa disadari menjadi penyebar Virus Covid-19. Kalo gua positif, ya pada akhirnya gua bisa tracing dan melindungi orang-orang disekitar gua dengan gua isolasi dan menyuruh mereka cek juga. Akhirnya makin banyak kan yang di cek, dan makin bagus. Kalo pun negatif ya alhamdulillah.

Alasan gua buat thread ini juga ya biar orang-orang waspada sih dan gua pengen nunjukin, bahwa menjadi suspect Covid-19 bukanlah sebuah aib. Kita harus melawan stigma. Mungkin next time, kalo gua positif gua bakal bagiin riwayat perjalanan gua.

Biar semakin banyak yang aware, waspada dan akhirnya mau meriksain dirinya.

Ada hal yang perlu saya garis bawahi, agar tidak salah paham dengan thread saya di atas.
1. Saya tidak bermaksud untuk menyudutkan pihak RS tempat saya di isolasi. Saya membeberkan itu untuk memberikan gambaran bagaimana belum siapnya fasilitas kesehatan kita menghadapi Covid-19.

Sekaligus menunjukan betapa rentannya tenaga medis kita, karena mereka sendiri belum bisa tes swab. Pihak RS tentu sudah mencapai batasannya, karena sulit menambah ruang isolasi mendadak disaat jumlah pasien meningkat.

Mangkanya diperlukan intervensi dari pemerintah pusat dan daerah untuk sama-sama membangun fasilitas kesehatan yang siap menangani Covid-19 ini. Jangan sampai keterbatasan lapangan ini didiamkan.

2. Bukan bermaksud untuk menyalahkan pak jokowi. Tapi memang beberapa kebijakan hanya beliau yang bisa keluarkan, sesuai amanat UU. Seperti kebijakan lockdown dan tentu ada konsekuensi yang harus dipenuhi jika lockdown dilaksanakan seperti yang telah saya jelaskan di atas.

Pemerintah daerah juga bukan berarti pasif. Sudah seharusnya pemda lebih proaktif dalam beberapa hal, misalnya proaktif untuk mengajukan tes di daerahnya seperti DKI dan Jabar, atau bisa juga proaktif meningkatkan kualitas pelayanan di lapangan dan mengusulkan daftar RS Rujukan tambahan di wilayahnya ke kemenkes.

3. Jangan enggan untuk memeriksakan diri mu. Dengan banyak yang ketauan statusnya, makan akan lebih mudah melakukan tracing penyebaran Covid-19 di masyarakat.



Ini Artikel Terbaru