16 Juni 2016

Dasa Pitutur, 10 Nasehat Sunan Kalijaga Agar Hidup Bermakna

Tipsiana.com - Sosok Sunan Kalijaga hingga hari ini sangat lekat di ingatan masyarakat Indonesia, khususnya suku Jawa. Beliau adalah satu dari sembilan wali yang telah berdakwah menyebarkan Islam di tanah Jawa. Ia dikenal sangat piawai melakukan dakwah dengan pendekatan tradisi, yang membuat hati masyarakat dan penguasa tanah Jawa terpikat dan berbondong-bondong memeluk agama Islam.

Kombinasi ilmu agama yang mumpuni dan jiwa seni yang tinggi membuatnya menjadi tokoh teladan yang meninggalkan banyak warisan budaya bernuansa Islam hingga kini. Bila Anda ingat lagu Ilir-ilir dan  Gundul-gundul pacul,  itu adalah sebagian karya beliau.


Beliau juga yang mengenalkan mode baju taqwa, tradisi gerebek maulud, perayaan sekatenan, menciptakan wayang kulit berbahan kulit kambing, serta lakon carangan Layang Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu. Konon, Ia juga yang menggagas lanskap Kraton dengan alun-alun beringin kembar dan masjid.

Selain sebagai pendakwah dan seniman, Sunan Kalijaga juga merupakan seorang filosof yang banyak mengajarkan makna kehidupan. Ia mengajarkan falsafah Wit Galingga atau falsafah pohon kelapa, dimana manusia seharusnya bisa mencontoh pohon kelapa yang dari ujung daun hingga ujung akarnya memiliki manfaat.

Dan filosofi Sunan Kalijaga yang paling dikenal masyarakat jawa adalah Dasa Pitutur, 10 filosofi kehidupan agar manusia bisa selamat dunia dan akhirat. Dasa Pititur disebut juga 10 filosofi Jawa ajaran Sunan Kalijaga.

Hari ini, rasanya sangat cocok kita kembali membaca, merenungi dan meresapi filosofi kehidupan wejangan Sunan Kalijaga.

1. Urip iku urup

Hidup itu Nyala! Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita. Semakin besar manfaat yang bisa kita berikan, tentu akan lebih baik.

2. Memayu hayuning bawana, ambrasta dur hangkara

Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah, dan tamak.

3. Sura dira jaya jayaningrat, lebur dening pangastuti

Segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati, dan sabar.

4. Ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake, sekti tanpa aji-aji, sugih tanpa bandha

Berjuang tanpa perlu membawa massa; menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan, kekayaan atau kekuasaan, keturunan; kaya tanpa didasari kebendaan.

5. Datan serik lamun ketaman, datan susah lamun kelangan

Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri! Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu!

6. Aja gumunan, aja getunan, aja kagetan, aja aleman

Jangan mudah terheran-heran! Jangan mudah menyesal! Jangan mudah terkejut-kejut! Jangan mudah kolokan atau manja!

7. Aja ketungkul marang kalungguhan, kadonyan lan kemareman

Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan, dan kepuasan duniawi!

8. Aja kuminter mundak keblinger, aja cidra mundak cilaka

Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah! Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka!

9. Aja milik barang kang melok, aja mangro mundak kendho

Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, dan indah! Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat!

10. Aja adigang, adigung, adiguna

Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti!



Sumber :
Implementasi Filosofi Kehidupan Sunan Kalijaga dalam Berbangsa dan Bernegara, Oleh : Letjen TNI (Purn) H. Sudi Silalahi 
https://turwahyudin.wordpress.com/2015/12/29/10-filosofi-jawa-ajaran-kanjeng-sunan-kalijaga/
https://id.wikipedia.org/wiki/Sunan_Kalijaga

loading...