12 November 2015

Jangan Tuntut Aku Seperti Kamu, Karena Ukuran Kita Tak Sama

Tags

Tipsiana.com - Seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya

Memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti

Memaksakan kasut besar untuk tapak mungil akan merepotkan

Kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi

Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu mentari seolah didekatkan hingga tinggal sejengkal. Pasir membara, reranting menyala. Angin kering dan panas meniup bagai ubupan. Dan lelaki itu masih berlari-lari, menutupi wajah dari pasir panas yang berterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.


Di padang gembalaannya dekatnya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ‘Ustman ibn ‘Affan sedang beristirahat disana dengan menyanding air sejuk dan berbuahan ketika ia melihat lelaki itu. Dan dia mengenalinya! “MasyaAllah! Serunya, “Bukankah itu Amirul Mukminin?!”

Ya. Lelaki tinggi besar itu, tak salah lagi, adalah ‘Umar ibn Al-Khattab.

“YA Amirul Mukminin!” ‘Ustman berteriak sekuat tenaga dari pintu dangaunya, “Apa yang kau lakukan di tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!” Dinding dangau di samping ‘Ustman berderak keras diterpa angin berpasir.

“Seekor unta zakat terpisah dan lepas dari kawanannya. Aku takut Allah akan menanyakannya kepadaku. Aku harus menangkapnya kembali. Masuklah engkau hai ‘Ustman!” ‘Umar berteriak dari kejauhan. Suaranya menggema.

“Masuklah kemari!” seru ‘Ustman, “Aku akan menyuruh seorang pembantuku menangkapnya untukmu!”

“Tidak! Masuklah, hai ‘Ustman! Masuklah!”

“Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah, insyaAllah unta itu akan kita dapatkan kembali!”

“Tidak. Ini tanggung jawabku. Masuklah, hai ‘Ustman, badai pasirnya mengganas!”

Angin makin kencang membawa butiran pasir membara. ‘Ustman pun masuk dan menutup pintu. Dia bersandar di baliknya dan bergumam, “Demi Allah, benarlah Dia dan juga RasulNya. Engkau memang bagaikan Musa. Seorang yang kuat lagi terpercaya.”

‘Umar memang bukan ‘Ustman, dan demikian juga sebaliknya. Mereka berbeda dan masing-masingnya menjadi unik dengan karakter khas yang dimiliki. Seorang jagoan yang biasa bergulat di pasar Ukazh, yang tumbuh di tengah klan Bani Makhzum nan keras dan Bani Adi nan jantan kini telah menjadi pemimpin orang-orang mukmin. Maka sifat-sifat itu – keras, tegas, jantan, bertanggung jawab, dan ringan turun gelanggang – dibawa ‘Umar untuk menjadi buah bibir kepemimpinannya hingga hari ini.

‘Ustman, lelaki pemalu, datang dari keluarga Bani Umayyah yang kaya raya dan terbiasa hidup nyaman. ‘Umar tahu itu. Maka tak dimintanya ‘Ustman ikut turun ke sengatan mentari bersamanya mengejar unta zakat yang melarikan diri. Itu bukan kebiasaan bagi ‘Ustman. Kedermawananlah yang menjadi jiwanya. Andai jadi ia menyuruh seorang sahayanya mengejarkan unta zakat itu; sang budak pasti dibebaskannya karena Allah dan dibekalinya bertimbun dinar jika berhasil membawa sang unta pulang.

Mereka berbeda.

Bagaimanapun juga, Anas ibn Malik bersaksi bahwa ‘Ustman berusaha keras meneladani sebagian dari perilaku mulia ‘Umar sejauh jangkauan dirinya. Hidup sederhana ketika menjabat misalnya. “Suatu hari aku melihat ‘Ustman berkhutbah di mimbar Nabi SAW”, kata Anas, “Kuhitung tambalan di surban dan jubahnya dan kutemukan tak kurang dari tiga puluh dua jahitan.”

Satu waktu, Sa’d ibn Abi Waqqash sakit dan Rasulullah menjenguknya. Di pembaringan, Sa’d bertanya kepada sang Nabi tentang apa yang harus ia lakukan dengan hartanya. Dia merasa, banyaknya harta akan menjadi beban ketika dirinya wafat nanti. “Ya Rasulullah,” katanya, “Bolehkah aku mewasiatkan seluruh hartaku?” maksud Sa’d adalah seluruh harta itu diwasiatkan sebagai infaq di jalan Allah atau hibah untuk mereka yang membutuhkan.

Rasulullah menggeleng, “Jangan.”

“Bagaimana jika dua pertiganya?”

“Jangan.”

“Bagaimana jika separuhnya yang aku wariskan?”

“Jangan.”

“Bagaimana jika sepertiganya?”

“Sepertiga itu.” Ujar Rasulullah SAW “sudah merupakan jumlah yang banyak. Hai Sa’d, sesungguhnya engkau tinggalkan keluargamu dalam keadaan kaya dan mampu adalah lebih baik daripada kau tinggalkan mereka dalam keadaan fakir dan meminta-minta.”

Ada seorang kawan yang pernah memberikan ulasan terkait mengapa jawaban Nabi kepada Abu Bakar di beberapa kesempatan dengan saran beliau kepada Sa’d ibn Abi Waqqash ini tidak sama. Kita tahu, kapanpun Abu Bakar datang dengan membawa seluruh hartanya Rasulullah tak pernah menolak. “Apa yang kau tinggalkan untuk keluargamu?” tanya Sang Nabi. Abu Bakar biasanya menjawab, “Kutinggalkan untuk mereka Allah dan RasulNya.”

Dan Rasulullah akan mengangguk. Beliau tak keberatan.

Tetapi kepada Sa’d kalimat beliau berbunyi, “Sesungguhnya engkau tinggalkan keluargamu dalam keadaan kaya dan mampu adalah lebih baik daripada kau tinggalkan mereka dalam keadaan fakir dan meminta-minta.” Apa perbedaan diantara mereka berdua?

“Perbedaannya ada pada kapasitas dan kapabilitas mereka dalam menjemput rizki,” ujar seorang rekan. “Abu Bakar adalah seorang niagawan yang dikenal jujur, amanah, cerdas, profesional, dan mumpuni. Dia memiliki wawasan dan jaringan yang luas dalam dagang. Abu Bakar tak pernah terputus sumber rizkinya karena begitu dia kehabisan uangpun, berduyun-duyun orang berebut menyerahkan modal padanya untuk dikelola. Tidak banyak sahabat lain yang seperti Abu Bakar dalam hal ini.”

Itulah mengapa Rasulullah tak pernah mengkhawatirkan Abu Bakar ketikapun dia menginfakkan seluruh hartanya di jalan Allah. Adapaun Sa’d ibn Abi Waqqash, kemungkinan besar beliau bukanlah orang yang kemampuan usahanya setinggi Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Tambahan lainnya, yaitu mengenai keluarga.

Bagaimana pendidikan, penyiapan jiwa, dan pewarisan nilai-nilai kebaikan yang terjadi pada masing-masing keluarga agaknya juga menjadi pertimbangan Sang Nabi. Keluarga Abu Bakar telah sedemikian rupa dididik oleh sahabat Rasulullah dalam gua itu untuk kokoh dalam iman dan penuh keikhlasan dalam berkorban di jalanNya. Kita ingat peristiwa Abu Bakar hijrah dengan membawa seluruh hartanya. Saat itu, Asma’ binti Abi Bakar menuntun kakeknya, Abu Quhafah yang buta untuk meraba kerikil-kerikil ditutupi kain yang dikatakannya, “Lihatlah Kek, Ayah meninggalkan banyak sekali harta untuk kita.”

Dalam dekapan ukhwah, kita punya ukuran-ukuran yang tak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Maka tindak utama yang kita punya adalah; jangan mengukur orang untuk baju kita sendiri, atau baju miliki tokoh lain lagi. Setiap manusia tetaplah dirinya. Tak ada yang berhak memaksa sesamanya untuk menjadi sesiapa yang ada dalam angannya.

Dalam dekapan ukhwah, berilah nasehat tulus kepada saudara yang sedang diberi amanah memimpin ummat. Tetapi jangan membebani dengan cara membandingkan dia terus-menerus kepada ‘Umar ibn Abdul Aziz. Berilah nasehat kepada saudara yang tengah diamanahi kekayaan. Tetapi jangan membebaninya dengan cara menyebut-nyebut selalu kisah berinfaqnya Abdurrahman ibn Auf. Berilah nasehat kepada saudara yang dianugerahi ilmu. Tetapi jangan membuatnya merasa berat dengan menuntutnya agar menjadi Zaid ibn Tsabit yang menguasai bahasa Ibrani dalam empat belas hari.


Sungguh tidak bijak menuntut seseorang untuk menjadi orang lain di zaman yang sama, apalagi menggugatnya agar tepat seperti tokoh lain pada masa yang berbeda. Ali ibn Abi Thalib yang pernah diperlakukan begitu, punya jawaban yang telak dan lucu. “Dulu di zaman khilafah Abu Bakar dan Umar,” kata seorang lelaki kepada Ali, “Keadaan begitu tentram, damai dan penuh berkah. Mengapa di masa kekhilafahanmu, hai Amirul Mukminin, keadaannya begitu kacau dan rusak?”

“Sebab,” kata Ali sambil tersenyum, “Pada zaman Abu Bakar dan Umar, rakyatnya seperti aku. Adapun di zamanku ini, rakyatnya seperti kamu!”

Dalam dekapan ukhwah, segala kecemerlangan generasi Salaf memang ada untuk kita teladani. Tetapi caranya bukan dengan menuntut orang lain untuk berperilaku seperti halnya Abu Bakar, Umar, dan Ustman, atau Ali. Sebagaimana bahkan Sang Nabi bahkan tak meminta Sa’d ibn Abi Waqqash melakukan peran Abu Bakar, fahamilah dalam tiap-tiap pribadi. Selebihnya jadikanlah diri kita sebagai orang yang paling berhak meneladani mereka. Tuntutlah diri untuk berperilaku sebagaimana para salafussalih, dan sesudah itu tak perlu sakit hati jika kawan-kawan lain tak mengikuti.

Sebab teladan yang masih menuntut sesama untuk juga meneladani teladan, akan kehilangan makna keteladanan itu sendiri. Maka jadilah kita teladan yang sunyi dalam dekapan ukhwah. Ialah teladan yang memahami bahwa masing-masing badan memiliki pakaiannya dan masing-masing kaki memiliki sepatunya. Teladan yang tak bersyarat dan sunyi akan membawa damai. Dalam damai pula keteladanannya akan menjadi ikutan sepanjang masa.

Bagi kita hari ini yang jauh dan tertatih dari keagungan Rasulullah beserta sahabat-sahabatnya, dekapan ukhwah tetap meminta kita untuk saling mengerti. Sebab ukuran-ukuran kita berbeda. Saling memahami adalah salah satu wasilah terpenting untuk dapat bersaudara. “Untuk mampu memahami orang lain.” Ujar John C. Maxwell dalam buku Winning with People.

Sadar atau tidak sadar kita sering bertanding memperlombakan capaian. Atau dalam sisi lain, yang diperunggulkan adalah derita. Ketika seorang saudara mengisahkan alangkah menyakitkannya suatu peristiwa, kita mencari-cari bagian hidup kita yang lebih mengenaskan daripada ceritanya. Yang lebih menyedihkan, kita melakukan itu semua sekedar untuk membuat prestasi atau nestapa kawan serasa tak ada nilainya.

Ini sebenarnya adalah penanda betapa lemahnya kesalingfahaman di antara kita.

Saat seorang saudara bercerita bahwa pesawatnya ditunda dua jam, kita segera menyahut bahwa kita pernah terlantar empat jam menanti penerbangan. Saat orang lain berkata alangkahnya repotnya berakfitas sebab menunggu pulihnya lengan yang patah, kita dengan menggebu menceritakan betapa lebih menderitanya jika kaki yang mengalami fraktur.

“Kita, jika demikian,” ujar Dale Carnegie dalam The 5 Essential People Skills, “Sedang bermain menang-menangan yang hasilnya adalah saling menyakiti.”

Maka langkah penting lain dalam memahami mereka yang mungkin saja hidup dalam ukuran-ukuran berbeda adalah memeriksa kembali sikap kita. Adakah kita masih mempertimbangkan derita atau memperlombakan lara sekedar untuk membuat lawan bicara kita makin terluka? Atau ketika saudara tercinta menangis menceritakan dukanya, kita telah mampu berbagi air mata disertai senyum yang menguatkan?

Berbahagialah mereka yang bersikap terbaik dalam dekapan ukhuwah.

Dalam dekapan ukhuwah, kita akan merenungkan nasehat pakar kimia pertanian George W. Carver. “Seberapa jauh engkau pergi dalam hidup ini,” tulisnya, “Tergantung seberapa lembut engkau berlaku pada anak muda, seberapa empati engkau kepada yang tua-tua, seberapa simpati engkau kepada yang sedang berjuang, dan seberapa toleran engkau pada yang lemah.”

“Sebab,” lanjutnya, “Dalam kehidupanmu, engkau pasti akan mengalami semua keadaan itu.”

Sumber : iamproudtobemuslim.com dari buku Dalam Dekapan Ukhuwah Oleh Salim A. Fillah

loading...