18 Agustus 2015

Para Pahlawan yang Rela Mati Demi Pekerjaannya

Tags

Tipsiana.com - Pahlawan tak hanya gelar yang disematkan pada mereka yang berjuang mengerahkan seluruh jiwa raganya menggunakan kekuatan militer. Mereka juga bisa muncul dari kalangan sipil, yang mungkin kesehariannya adalah orang biasa. Pada momen tertentu, dimana ia lebih memilih berkorban untuk orang lain tanpa peduli diri sendiri, itulah momen yang merubahnya menjadi seorang pahlawan.

Para pria dan wanita dalam kisah ini hanyalah orang yang sedang melakukan pekerjaan rutinnya. Namun kemudian mereka memutuskan melakukan hal yang melebihi tanggung jawab tugasnya untuk menyelamatkan banyak nyawa. Mereka pantas disebut pahlawan.


Alexei Ananenko, Valeri Bezpalov, dan Boris Baranov - Penyelam Chernobyl 

Beberapa hari setelah krisis kebocoran dan kebakaran reaktor nuklir Chernobyl bisa dikontrol, masih ada bahaya ledakan lain yang mengancam. Dua kolam dibawah reaktor yang berfungsi sebagai penampung air untuk pompa pendingin darurat terancam meledak. Kolam dan ruang bawah tanah dibanjiri air dari semprotan selama pemadaman reaktor dan pipa yang rusak.

Jika genangan dibiarkan, akan terjadi ledakan uap yang akan melemparkan partikel radioaktif ke udara dan akan membahayakan sebagian besar Eropa. Satu-satunya jalan mengatasi bahaya ledakan ini adalah membuka secara manual pintu air yang ada di dasar kolam. Tiga orang penyelam mengajukan diri sebagai relawan. Alexei Ananenko, Valeri Bezpalov, dan Boris Baranov akhirnya berhasil membuka pintu air setelah berenang melewati paparan radioaktif yang mematikan. Tak lama setelah mereka kembali dari penyelaman, mereka bertiga tewas.

Neerja Bhanot - Pramugari

Pada tahun 1986, Pesawat Pan Am Flight 73 dibajak oleh empat teroris bersenjata berat asal Libya setelah mendarat di Karachi, Pakistan. Neerja Bhanot, seorang pramugari senior di penerbangan tersebut segera memperingatkan kru pesawat yang berkebangsaan Amerika untuk segera melarikan diri. Karena pesawat telah mendarat, pilot dan ko-pilot beserta para teknisi berhasil melarikan diri. Sebagai awak senior yang tersisa, Bhanot mengambil alih tanggung jawab.


Para pembajak meminta paspor para penumpang untuk mengidentifikasi mana penumpang yang berkewarganegaraan Amerika. Bhanot menyelamatkan nyawa 41 orang Amerika dengan cara mencampakkan semua paspor ke saluran pembuangan sampah. Setelah 17 jam, para pembajak mulai menembak. Bhanot dengan berani membuka pintu darurat agar para penumpang bisa melarikan diri. Bukannya ikut melarikan diri, ia lebih memilih melindungi penumpang dari tembakan. Akhirnya ia tewas tertembak saat memeluk tiga orang anak untuk melindungi mereka dari hujan peluru.

Victoria Soto - Guru Sekolah Dasar Sandy Hook

Vicki Soto sedang mengajar di ruang kelas satu saat terjadi penembakan brutal oleh Adam Lanza. Soto segera menyembunyikan anak-anak SD tersebut kedalam lemari kelas. Ketika Lanza memasuki ruang kelas Soto, Lanza bertanya dimana anak-anak berada. Soto mengatakan anak-anak sedang berada di ruang olahraga.

Namun karena ketakutan, beberapa anak tak tahan berdiam diri di lemari persembunyiannya dan keluar melarikan diri. Lanza kemudian melepaskan tembakan ke arah anak-anak tersebut, namun dengan refleks Soto melompat menghalangi tembakan Lanza. Soto dan lima guru lainnya tewas setelah menyelamatkan nyawa anak didiknya. Mereka dianugerahi Presidential Citizens Medal.

Robert Cook - Instruktur Terjun Payung

Enam penerjun payung tewas pada tahun 2006 saat pesawat yang mereka tumpangi mengalami kerusakan mesin dan jatuh menabrak pohon setelah lepas landas dari bandara St. Louis, Missouri. Rencananya Robert Cook akan menjadi teman tandem Kimberley Dear, seorang turis muda asal Australia.


Saat pesawat tersebut menukik tajam, Cook memeluk erat tubuh Dear. Cook mengatakan tubuhnya akan menjadi bumper untuk mengurangi dampak benturan pada tubuh Dear saat pesawat jatuh. Dear mengalami patah tulang panggul, bengkok tulang belakang, dan cedera sepanjang tulang punggung, tapi ia selamat. Cook tewas demi menyelamatkan Dear.

Para Teknisi Kapal Titanic

Para teknisi bertanggung jawab untuk menjaga semua peralatan mekanik, termasuk mesin dan generator agar tetap berjalan baik selama pelayaran. Pada perlayaran perdana sekaligus terakhirnya, Titanic membawa 25 orang teknisi ditambah 10 orang tenaga elektrik dan ketel uap. Ketika Titanic tenggelam, seluruhnya tewas. Mereka semua tewas karena sengaja tetap bertahan di bawah dek untuk menjaga kapal mengapung selama mungkin.


Pompa air di kompartemen bagian depan terus berjalan dan kamar boiler terus memproduksi uap, yang terus mengalirkan listrik untuk penerangan sampai dua menit terakhir sebelum Titanic tenggelam. Tindakan mereka membuat kapal mampu menambah waktu mengapung  selama sejam. Dengan waktu tersebut, banyak sekoci penyelamat dapat diturunkan.

Para Ilmuwan Pelindung Bank Benih Leningrad

Koleksi benih terbesar Uni Soviet terletak di Vavilov Institute di Leningrad. Disana tersimpan setidaknya 250.000 varietas benih. Selama pengepungan 28 bulan oleh Jerman pada Perang Dunia Kedua, sekelompok ilmuwan melindungi benih-benih ini. Pengepungan menyebabkan penderitaan yang mendalam, dengan lebih dari 1,5 juta tentara dan warga sipil yang sekarat.

Vavilov Institute, Leningrad

Selama pengepungan, makanan tidak tersedia, rakyat harus melihat mayat-mayat bergelimpangan di pinggir jalan sambil menunggu giliran mereka ikut mati kelaparan. Para ilmuwan yang menjaga benih tersebut juga dilanda kelaparan, namun mereka bersikeras tak mau menyantap benih-benih yang tersimpan. Setelah peperangan berakhir, benih-benih ditanam dan akhirnya mampu menyelamatkan rakyat dari kelaparan. Rakyat Rusia berterimakasih kepada sembilan ilmuwan penjaga benih yang akhirnya meninggal kelaparan.

Para Petugas Kesehatan Penyakit Ebola

Selama wabah di Sierra Leone, Guinea, dan Liberia, lebih dari 500 dokter dan perawat meninggal karena Ebola. Sering kali petugas kesehatan ini harus harus berhadapan dengan pasien Ebola tanpa perlindungan dasar, seperti sarung tangan. Hal ini yang menyebabkan mereka akhirnya terpapar virus mematikan Ebola. Namun demikian para tenaga medis disana tetap melayani pasien dengan sepenuh hati. Setelah bantuan Internasional datang, alat pelindung kesehatan maksimum diberikan pada tenaga medis.

loading...