14 Desember 2017

Lihat Foto ini, Medsos Barat Sebut Madinah Bagai Kota Star Wars

Tipsiana.com - Beberapa hari belakangan media sosial diramaikan oleh postingan sebuah foto landskap bangunan indah dengan arsitektur berkesan futuristik. Warganet barat menyebutnya sebagai kota yang mirip dengan kota dalam film saga Star Wars.

Foto yang tak lain adalah pemandangan pelataran Masjid Nabawi tersebut beredar luas di beberapa media sosial seperti Twitter, Pinterest, Imgur, 9gag hingga Reddit. Mereka memberi judul postingannya sebagai, "Terlihat seperti sedang berada di suasana Star Wars, padahal ini adalah kota Madinah di Arab Saudi."


Pilar-pilar tinggi yang bersusun rapi dengan ornamen indah terlihat sangat unik. Sejauh mata memandang, pilar yang sebenarnya adalah tiang penyangga payung raksasa ini membentuk pola layaknya menara-menara kota.


Warganet menyamakan pemandangan ini mirip dengan kota Coruscant, sebuah kota fiktif yang muncul dalam film Star Wars Episode III. Kota ini memenuhi seluruh planet dengan gedung pencakar langit berbentuk meruncing dengan nuansa keemasan. Mungkin karena sama-sama memiliki tiang menara tinggi keemasan inilah, ditambah para penduduknya yang berpakaian jubah, membuat suasana pelataran Masjid Nabawi ini mereka samakan dengan kota Coruscant.


Meski bersetting suasana planet lain, film-film fiksi ilmiah seringkali mengadopsi landskap yang ada di bumi. Sebut saja pada film Avatar, pulau-pulau melayang di planet Pandora ternyata terinspirasi dari bukit-bukit lancip di Taman Nasional ZhiangJiaJie di China.


Di Film Star Wars sendiri ada sebuah kota bernama Theed yang bentuk kubah-kubah bangunannya mirip dengan kubah bangunan Hagya Sophia dan Masjid Biru di Istanbul Turki.


Namun tampaknya kemiripan yang ada pada Masjid Nabawi di Madinah dengan kota fiksi Coruscant terjadi secara tidak sengaja.


Dan mereka tentunya akan semakin terkagum-kagum saat melihat tiang-tiang yang mereka anggap menara ini ternyata bisa mengembang menjadi payung-payung raksasa yang menaungi para jamaah dari terik matahari.

Pekerja Renovasi Masjidil Haram Temukan Sumur Zamzam Baru, Benarkah?

Tipsiana.com - Para pekerja renovasi Masjidil Haram di Mekkah membuat heboh dunia maya setelah mengunggah video yang memperlihatkan penemuan baru sumur tua berair jernih di dekat sumur Zamzam. Mereka mengklaim sumur tersebut adalah penemuan sumber baru air Zamzam.

Penemuan sumber mata air baru ini berjarak hanya 40 meter dari sumber alami sumur Zamzam. Sumur berdiameter sekitar 60 cm yang berisi air jernih nyaris hingga ke bibir sumur. Pekerja yang merekam temuannya juga meminum air sumur untuk membuktikan air tersebut bisa diminum.


Rekaman video sumber mata air baru itu tampaknya diunggah oleh salah seorang pekerja penggalian yang tengah berlangsung sebagai bagian dari proses renovasi Masjidil Haram. Klaim yang menyebutkan sumur itu adalah sumber baru mata air Zamzam akhirnya membuat Otoritas Masjidil Haram angkat bicara. Benarkah?

Juru bicara Kantor Kepresidenan untuk Urusan Dua Masjid Suci; Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Ahmad Al-Mansouri, membantah laporan penemuan mata air baru yang berhubungan dengan sumur Zamzam. Ia menyatakan bahwa sumber mata air yang diperlihatkan di video tersebut hanyalah bagian dari sebuah sumur tua yang kebetulan berdekatan dengan sumur Zamzam.


"Sumur tua itu tidak ada hubungannya dengan sumur Zamzam," Al-Mansouri memberikan klarifikasinya. Klarifikasi ini dimuat di laman saudigazette.com.sa, kemarin (12/14/17).

Meski telah dipastikan tak ada hubungannya dengan sumur Zamzam, hingga saat ini warganet masih banyak yang membagikan kiriman tersebut sebagai penemuan mata air Zamzam yang baru.

Kisah Tentara yang Dipaksa Berperang untuk Tiga Negara Berbeda

Tipsiana.com - Ia adalah seorang pria asal Korea yang tertangkap oleh tentara Jepang dan dipaksa untuk berperang melawan Soviet, tertangkap lagi oleh tentara Soviet dan kembali dipaksa berperang melawan Jerman. Lagi-lagi tertangkap oleh tentara Jerman dan dipaksa bertempur mempertahankan wilayah Normandy, sampai akhirnya ia ditangkap oleh tentara Amerika.

Ini adalah kisah tentang Yang Kyoungjong, satu-satunya tentara yang diketahui berperang pada tiga kubu negara yang berbeda.


Tak banyak yang diketahui tentang kehidupan Yang sebelum ikut terlibat dalam Perang Dunia II, selain ia adalah warga asli Korea yang entah mengapa tinggal di Manchuria, daerah yang pada saat itu dijajah Jepang. Disinilah ia tak bisa menolak menjalani wajib militer pada tahun 1938 dan dipaksa bergabung kedalam tentara Kwantung di usia 18 tahun.

Selama pertempuran Khalkhin Gol, dia ditangkap oleh Tentara Merah Soviet dan dikirim ke sebuah kamp kerja paksa. Karena Soviet kekurangan sumber daya manusia dalam perjuangannya melawan Nazi Jerman, pada tahun 1942 dia dipaksa menjadi Tentara Merah bersama ribuan tahanan perang lainnya.

Tentara Jerman asal Korea

Yang berperang untuk Soviet selama sekitar satu tahun, selama kurun waktu tersebut ia melakukan berbagai pertempuran di sepanjang Front Timur, terutama pada Pertempuran Ketiga Kharkov. Dalam peperangan terakhir inilah ia lagi-lagi tertangkap dan menjadi tawanan perang negara lain.

Pihak Jerman tampaknya tak ambil pusing bagaimana seorang Korea bisa sampai berperang untuk Soviet di Ukraina. Mereka tetap saja menjadikannya tawanan bersama ratusan tentara lain.


Sekali lagi, riwayat Yang tampaknya akan berakhir disini jika saja Nazi tak memiliki kebiasaan menjadikan tawanan perang yang tak dieksekusi mati menjadi tenaga 'sukarelawan' tentara angkatan darat Jerman yang dikenal sebagai Wermacht. Yang pun menjelma menjadi tentara Jerman dan diwajibkan bertempur di Ostbataillone Jerman (Batalyon Timur), Divisi Infanteri 709 Wehrmact.

Ostbataillone  adalah batolion kecil yang terdiri dari para 'sukarelawan' dari berbagai daerah di Eropa yang dikuasai Nazi Jerman. Batalion ini digabung kedalam unit tentara Jerman yang lebih besar untuk dijadikan pasukan pengejut dan pasukan cadangan yang disediakan untuk mendukung tentara lain yang lebih berpengalaman.

Yang saat ditangkap tentara AS di Normandy

Yang dikirim untuk membantu Jerman mempertahankan semenanjung Cotentin di Prancis sesaat sebelum D-Day, penyerbuan besar-besaran ke pantai Normandy oleh Sekutu. Ketika D-Day tiba dan pasukan Sekutu berhasil menguasai pantai Normandy, Yang termasuk diantara beberapa tentara yang ditangkap oleh Resimen Infanteri Parasut 506 dari AS.

Letnan Robert Brewer dari divisi 506 membuat laporan bahwa ia menangkap "empat orang Asia berseragam Jerman". Secara teknis laporan tersebut benar, tapi mereka salah mengira dengan mengatakan keempat tawanan asia tersebut (Yang termasuk didalamnya) adalah orang Jepang.




Padahal, tiga pria lainnya sebenarnya berasal dari daerah Turkestan, sementara Yang adalah dari Korea. Karena mereka sama sekali tak bisa berkomunikasi dengan Yang karena ia tak lancar berbahasa Inggris atau Jerman, Yang dikirim ke kamp tawanan perang di Inggris, dimana ia akhirnya bisa selamat hingga berakhirnya perang.

Ketika Perang Duni II berakhir, Yang memilih untuk tidak kembali pulang ke rumah, namun ia malah berimigrasi ke AS. Ia akhirnya menetap di Illinois sampai akhirnya meninggal pada tahun 1992.


Perjalanan hidupnya yang begitu menarik pada tahun 2011 dikisahkan kembali ke dalam sebuah film berjudul "My Way". Yang adalah sosok yang begitu sial sekaligus beruntung karena ia terpaksa harus berperang untuk musuh-musuhnya namun akhirnya bisa selamat dari ganasnya Perang Dunia Ke-2.

Cerita menarik lain tentang PD II yang dapat Anda simak:
Kisah Prajurit Jepang yang Menolak Menyerah Selama 29 Tahun

13 Desember 2017

Foto Tulisan Tangan Profesor ini Jadi Viral, Mengapa?

Tipsiana.com - Banyak pria yang tak peduli bagaimana bentuk tulisan tangannya. Karena buru-buru, mereka ingin menulis secepat mungkin hingga hasilnyapun berantakan. Alhasil, belum sampai memahami isi tulisan, orang lain sudah pusing karena harus bersusah payah berusaha membaca tulisannya.

Perempuan sebaliknya, mungkin karena biasa lebih rapi, mereka bisa dengan sabar meluangkan waktu untuk memastikan tulisan tangannya rapi dan terlihat bagus.


Meski begitu, seorang pria bergelar profesor mementahkan stereotip tersebut setelah foto tulisan tangannya yang rapi di papan tulis tersebar di dunia maya. Seperti terlihat di foto, tulisan dan gambar sang profesor di sebuah universitas tersebut dikerjakan dengan detail dan kerapian luar biasa. Padahal menulis di papan tulis jauh lebih sulit dibanding menulis di buku.

Pengguna Facebook dengan akun Caleb Banares mengatakan profesor yang tak disebutkan namanya itu sedang mengajar di Far Eastern University (FEU) Institute of Technology, Filipina.


Saat artikel ini ditulis, postingan tersebut telah dibagikan sebanyak 17 ribu kali dengan orang mengklik tombol suka sebanyak 20 ribu kali.

Ini bisa dicontoh untuk para guru dan dosen, agar siswa bisa dengan nyaman membaca materi yang diberikan di papan tulis.

Inilah Jamur-Jamur Terindah di Dunia

Tipsiana.com - Jamur adalah mesin pendaur ulang alami di dunia. Anda mungkin tak mengetahuinya, tapi jamur-jamur ternyata terdiri dari beragam spesies yang jumlahnya hampir mengimbangi jumlah spesies di dunia hewan.

Kebanyakan jamur yang nampak di permukaan, sebenarnya hanyalah bagian kecil dari struktur reproduksinya, sementara jaringan tubuh mereka berkembang jauh di dalam tanah. Beberapa jamur malah tak terlihat muncul di permukaan. Bahkan, organisme hidup terbesar di dunia adalah jamur. Di Oregon, AS, ada koloni jamur madu yang membentang hingga seluas 2.000 hektar.


Banyak orang yang menganggap jamur sebagai kerabat dari kerajaan tanaman yang kecil dan jelek. Padahal, begitu banyak jenis jamur yang memiliki keindahan tak kalah dibanding dengan bunga. Foto jamur-jamur cantik ini, diambil oleh para fotografer yang memburunya diantara tumbukan kayu lapuk hingga lembabnya hutan hujan.

Mycena Chlorophos (jamur yang bercahaya dalam gelap)


Marasmius Haematochephalus


Rhodotus Palmatus


Phallus Indusiatus


Schizophyllum Commune


Amethyst Deceiver


Panus Fasciatus



Clathrus Ruber


Jamur Porselin


Jamur Cangkir Merah


Lepiota


Leratiomyces


Hydnellum Peckii


Favolaschia Calocera


Cyathus novaezelandiae (jamur sarang burung)


Coprinus Comatus


Geastrum Minimum


Aseroe Rubra





Leratiomyces sp.


Cytotrama aspratum


Mycena austrororida


Leratiomyces ceres



12 Desember 2017

Wow, Pekerja Gudang Kepung Mobil Pencuri Pakai Forklift

Tipsiana.com - Para pekerja gudang di Ostrava, Republik Ceko, menggagalkan usaha pencurian dengan menggunakan beberapa forklift untuk memblokir kendaraan para pencuri yang hendak kabur.

Rekaman video insiden yang diambil pada 5 Desember 2017 dan dipublikasikan oleh perusahaan penyedia material konstruksi DEK, memperlihatkan sebuah mobil sedan Renault parkir tepat disamping sebuah van di lokasi pergudangan.


Menurut situs berita lokal iDNES.cz, orang-orang yang berada dalam mobil Renault kemudian terlihat mencuri alat dari dalam van tanpa sadar kalau seseorang sedang duduk di kursi depan mobil van.

Begitu saling berhadapan, ketiga tersangka terlihat mencoba melarikan diri dari tempat tersebut dengan memacu mobil sedannya kearah jalan raya. Namun pelarian mereka digagalkan oleh staf gudang yang sedang mengendarai fortklif (kendaran kecil pengangkut barang) di ujung jalan.


Beberapa kali mobil sedan coba bermanuver menghindari fortklif, namun supir fortklif dengan lihai kembali memblokir jalan mereka.

Tak bisa lewat, para pencuri berputar arah ingin melarikan diri dari jalan lain. Namun para pekerja lain yang melihat kejadian dengan sigap melompat keatas fortklif yang terparkir dan segera menutup jalan keluar. Adegan unik tersebut berakhir setelah mobil pencuri terkepung empat buah fortklif yang memepetnya.

Para pelaku selanjutnya diserahkan ke kepolisian setempat untuk diproses.

Salahuddin Ayyubi, Sang Pahlawan Pembebas Yerussalem

Tipsiana.com - Salahuddin Ayyubi (1138 - 1193), yang di dunia barat lebih dikenal dengan sebutan Saladin, adalah figur langka dalam sejarah emas Timur Tengah. Ia begitu dihormati oleh dunia Kristen, Yahudi, dan tentu saja dunia Islam.

Namanya begitu termasyhur karena berhasil mengalahkan Tentara Salib pada Pertempuran Hattin dan berhasil merebut kembali Yerussalam pada tahun 1187. Seperti manusia lainnya, ia memiliki kekurangan, namun sejarah menjunjungnya sebagai teladan dari seorang ksatria yang penuh belas kasih dan kemurahan hati.


Sejarawan asal Perancis, Rene Grousset mengatakan bahwa kesalehan dan kemurahan hati Salahuddin tidak hanya dikenal di dunia Muslim, tapi juga di dunia barat. Ia memang seorang Sultan Muslim, tapi ia telah menjelma sebagai figur universal. Ia adalah kombinasi menarik dari seorang penguasa yang memiliki sikap tegas pada lawan namun lembut dan penuh belas kasih pada rakyat dan mereka yang lemah. Lebih dari itu, jiwa sportif Salahuddin pada lawan selama pertempuran membuatnya begitu dihormati.

Selama penaklukan Eropa terhadap Yerussalem di tahun 1099, Tentara Salib membantai penduduk Muslim dan Yahudi, termasuk perempuan dan anak-anak. Menurut penuturan ahli sejarah Michaud,  penduduk kota Yerussalem dibunuh secara besar-besaran di jalan-jalan raya dan di rumah-rumah. Yerusalem tidak memiliki tempat berlindung bagi umat Islam yang menderita kekalahan itu. Ada yang melarikan diri dari cengkeraman musuh dengan menjatuhkan diri dari tembok-tembok yang tinggi, ada yang lari masuk istana, menara-menara, dan juga banyak yang masuk masjid.

Tetapi mereka tidak terlepas dari kejaran tentara Salib. Tentara Salib yang menduduki masjid Umar di mana kaum Muslimin dapat bertahan untuk waktu yang singkat, mengulangi lagi tindakan-tindakan yang penuh kekejaman. Pasukan infanteri dan kavaleri menyerbu pengungsi yang lari tunggang langgang. Raymond d’ Angiles yang menyaksikan peristiwa itu mengatakan bahwa “Di serambi masjid mengalir darah sampai setinggi lutut, dan sampai ke tali kekang kuda prajurit”.

Salahuddin Al-Ayyubi memasuki Kota Yerussalem

Delapan puluh delapan tahun kemudian, Salahuddin merebut kembali Yerussalem. Penduduk kota yang beragama Kristen takut akan keselamatan jiwanya karena mereka yakin bahwa para tentara Muslim akan membalas kematian rakyatnya dengan kejam, seperti ketika Yerussalem direbut tentara Salib.

Namun hal yang tak terduga terjadi, Salahuddin ternyata tak membanjiri Yerussalem dengan darah penduduknya. Tak ada satu pun penduduk yang dibunuh. Ia malah membebaskan para orangtua, para janda dan anak-anak untuk memastikan mereka tak dijual sebagai budak. Selama 40 hari, ia menjamin para pengungsi Kristen bisa sampai ketempat tujuan yang aman dan membiarkan mereka kembali ke negara masing-masing dengan harta benda yang bisa dibawa mereka.




Ia bahkan memberi pengawal khusus yang menjaga para pengungsi wanita untuk memastikan mereka mendapatkan perlindungan selama perjalanannya.

Ia mempersilahkan orang-orang Kristen asal Timur untuk tinggal di Yerussalem dan mengembalikan hak setiap orang Yahudi untuk mengunjungi dan bermukim di Yerusalem. Salahuddin menaklukkan kota Yerussalem pada hari Sabtu. Keesokan harinya, pada hari Minggu, ia memerintahkan seluruh Gereja di Yerussalem dibuka agar umat Kristiani dapat beribadah.

Tindakan sangat terpuji Salahuddin tak hanya pada penduduk sipil. Dalam pertempuran ia juga memiliki jiwa besar dan sangat menghormati lawannya. Pada akhir pertempuran Hittin, Salahuddin berhasil menangkap dua pimpinan Tentara Salib, Guy of Lusignan, suami Ratu Kerajaan Yerussalem, dan Raymond III, Pangeran Tripoli. Salahuddin memenuhi sumpahnya untuk mengeksekusi Raymond sebagai hukuman atas pembantaian kafilah Muslim dan para jemaah haji, selama periode genjatan senjata antara Muslim dan Tentara Salib.

'Saladin dan Guy de Lusignan' yang menggambarkan berakhirnya Pertempuran Hattin

Guy of Lusignan kuatir akan bernasib sama setelah menyaksikan eksekusi tersebut, namun Salahuddin mengampuni jiwa tawanannya dengan mengatakan, ".. bukan hal yang biasa bagi seorang raja membunuh raja lainnya, tapi orang tersebut telah melampui batas."

Tindakan Salahuddin dan interaksinya dengan orang-orang Kristen juga menjungkir balikkan gagasan dunia Barat bahwa Barat dan Islam terjerat dalam 'benturan peradaban'.

Setelah Yerussalem kembali ke pangkuan kerajaan Islam, Eropa tak tinggal diam, mereka mengirimkan kembali bala tentara Pasukan Salib yang dipimpin oleh Raja Richard the Lionheart. Terjadi pertempuran panjang dan besar antara pasukan Richard the Lionheart dengan Salahuddin Ayyubi. Dan beberapa peristiwa terpuji terjadi disela pertempuran.

Lukisan Richard the Lionheart melawan Salahuddin Al-Ayyubi di sebuah manuskrip abad ke-13

Ketika Raja Richard the Lionheart tertinggal tanpa kuda di medan perang, Salahuddin tak memanfaatkan situasi tersebut untuk mengejar dan membunuh lawannya. Ia malah mengirimkan dua ekor kuda tunggangan agar sang lawan bisa dalam posisi seimbang.

Dan saat Richard jatuh sakit, Salahuddin mengirimkan sekeranjang buah dan dokter terbaik untuk mempercepat pemulihannya. Ketika Raja Richard perlu kembali ke Eropa untuk mengkonsolidasikan kekuasaannya di tengah Perang Salib ketiga, Salahuddin menegosiasikan sebuah perjanjian yang adil.


Seorang Novelis asal Inggris, Percy Newby, dalam bukunya Saladin in His Time menuturkan, "Tentara Salib terpesona oleh seorang pemimpin Muslim yang memiliki kebajikan yang mereka anggap selayaknya seorang Kristen."

Salahuddin Ayyubi membuka sebuah jendela kekayaan sejarah dan kedamaian Islam. Ia adalah contoh tentang bagaimana harusnya kita bertindak di masa-masa yang berbahaya dan penuh ketakutan.

Bagi Salahuddin,"Kemenangan sejati adalah bagaimana mengubah hati lawan-lawan mu dengan kelembutan dan kebaikan hati."

Dunia sedang menyaksikan pertumpahan darah orang-orang sipil yang tak berdosa di Timur tengah ditangan para teroris dan penjajah. Namun kata-kata Salahuddin dari abad ke-12 dapat memberi pelajaran berharga pada kita semua.

"Kuperingatkan kepada kalian untuk tidak menumpahkan darah, tidak terlibat didalamnya atau membuat kebiasaan itu, karena darah tak pernah tidur."

Ia memang cinta damai, tapi begitu kedamaian terusik oleh tirani, maka ia bangkit dengan semangat baja dan tak kenal menyerah. Salahuddin adalah ahli stategi perang terbaik di zamannya. Setelah perang yang panjang seperti tak berujung, pada tahun 1192 Raja Richard akhirnya melakukan perjanjian damai dengan Salahuddin dan kembali ke Eropa dengan penghormatan tertinggi kepada lawan tandingnya, Salahuddin al-Ayyubi.

Wilayah kekuasaan Kerajaan Salahuddin Al-Ayyubi

Beberapa bulan setelah berakhirnya Perang Salib, ia kembali menghadap Sang Pencipta. Dibalik rasa kehilangan mendalam seluruh dunia Muslim, sang Sultan kembali membuat orang-orang terpana. Ketika petugas kerajaan menginventarisir harta warisan almarhum, mereka hanya menemukan uang 1 Dinar emas dan 36 Dirham perak sebagai harta pribadinya.

Seorang raja yang menguasai kerajaan yang membentang sepanjang barat pesisir Jazirah Arab dan Mesir, hanya memiliki sedikit harta. Bahkan uang tersebut tak mampu membiayai pemakamannya sendiri. Selama hidupnya Ia ternyata memakai uang kerajaan hanya untuk kemaslahatan umat, tanpa sedikitpun memikirkan diri sendiri.

Kita rindu akan sosok pemimpin seperti beliau. Semoga akan tiba saatnya seorang pahlawan sejati kembali datang membebaskan Yerussalem dari belenggu penjajahan.

Semoga.

Untuk versi lengkap kisah Shalahuddin Al-Ayyubi, Anda bisa membacanya disini :
Shalahuddin Al Ayyubi, Pahlawan Islam dari Seratus Medan Pertempuran

Mengapa Al-Quran Berbahasa Arab?

Tipsiana.com - Mengapa Al-Quran Berbahasa Arab? Setiap saat, lahir orang-orang alim yang mampu menghapal isi kandungan Kitab Suci Al-Quran. Hatta, orang buta atau anak kecil. Itulah bedanya dengan Kitab Suci lain.

“Mengapa Al-Quran diturunkan kepada seorang Nabi yang miskin dan buta huruf (ummiy)? Mengapa tidak diberikan kepada pembesar Mekkah maupun Tha’if saja?” Pertanyaan seperti ini sering terjadi. Sama hal nya dengan pernyataan, “Mengapa Al-Qur’an berbahasa Arab?” Banyak dalil yang mengungkap hal ini. Diantaranya; QS. 12: 2, 14: 4, 13: 37, 16: 103, 19: 97, 20: 113, 26: 193-195, 26: 198-199, 39: 28, 41: 3, 41: 44, 43: 3, 44: 58, dan 46 : 12.


Boleh dikata, hampir semua ayat tersebut menyatakan, bahwa Al-Qur’an itu diturunkan dalam “bahasa Arab”. Adalah keliru jika karena Allah menurunkan Al-Quran ke dalam bahasa Arab kemudian dikatakan “tidak universal”. Kenapa Allah memilih bahasa Arab? Bukan bahasa lain? Barangkali itu adalah hak Allah. Meski demikian, pilihan Allah mengapa Al-Quran itu dalam bahasa Arab bisa dijelaskan secara ilmiah.

Pertama, sampai hari ini, bahasa yang berasal dari rumpun Semit yang masih bertahan sempurna adalah bahasa Arab. Bahkan Bible (Old Testament) yang diklaim bahasa aslinya bahasa Ibrani (Hebrew) telah musnah, sehingga tidak ada naskah asli dari Perjanjian Lama.

Meskipun begitu, menurut Isrâ’il Wilfinson, dalam bukunya Târîk al-Lughât al-Sâmiyyah (History of Semitic Language), seperti yang dikutip Prof. Al-A‘zamî, ternyata bahasa asli PL itu tidak disebut Ibrani.

Bahasa pra-pengasingan (pre-exilic language) yang digunakan oleh Yahudi adalah dialek Kanaan dan tidak dikenal sebagai Ibrani. Orang-orang Funisia (atau lebih tepatnya, orang-orang Kanaan) menemukan alfabet yang benar pertama kali ± 1500 S.M, berdasarkan huruf-huruf ketimbang gambar-gambar deskriptif.

Semua alfabet yang berturut-turut seterusnya adalah utang budi pada, dan berasal dari, pencapaian Kanaan ini. (Prof. Dr. M.M. Al-A‘zamî, The History of The Qur’ânic Text from Revelation to Compilation (edisi Indonesia), terjemah: Sohirin Solihin, dkk., GIP, 2005, hlm. 259).

New Testament (Gospel, Injil) yang diklaim bahasa aslinya adalah bahasa “Yunani” juga sudah hilang, sehingga tidak ada naskah asli dari Injil. Bahkan, ini bertentangan dengan bahasa Yesus, yang sama sekali tidak paham bahasa Yunani. Bukankah ini ‘mencederai’ saktralitas Injil yang diklaim sebagai ‘firman Tuhan’?

Kedua, bahasa Arab dikenal memiliki banyak kelebihan: (1) Sejak zaman dahulu kala hingga sekarang bahasa Arab itu merupakan bahasa yang hidup, (2) Bahasa Arab adalah bahasa yang lengkap dan luas untuk menjelaskan tentang ketuhanan dan keakhiratan, (3) Bentuk-bentuk kata dalam bahasa Arab mempunyai tasrif (konjungsi), yang amat luas hingga dapat mencapai 3000 bentuk perubahan, yang demikian itu tak terdapat dalam bahasa lain. (Lihat, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Depag, edisi revisi, Juli 1989, hlm. 375 (foot-note).

Ketiga, Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW. dalam bahasa Arab yang nyata (bilisanin ‘Arabiyyin mubinin), agar menjadi: mukjizat yang kekal dan menjadi hidayah (sumber petunjuk) bagi seluruh manusia di setiap waktu (zaman) dan tempat (makan); untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya: dari kegelapan “syirik” kepada cahaya “tauhid”, dari kegelapan “kebodohan” kepada cahaya “pengetahuan”, dan dari kegelapan “kesesatan” kepada cahaya “hidayah”.


Tiga poin itu berjalan terus atas izin Allah sampai dunia ini hancur, yakni Risalah (Islam), Rasul (Muhammad SAW) dan Kitab (Al-Qur’an)). (Lihat, Prof. Dr. Thaha Musthafa Abu Karisyah, Dawr al-Azhar wa Jami‘atihi fi Khidmat al-Lughah al-‘Arabiyyah wa al-Turats al-Islamiy, dalam buku Nadwat al-Lughah al-‘Arabiyyah, bayna al-Waqi‘ wa al-Ma’mul, 2001, hlm. 42).

Karena Islam itu satu risalah (misi) yang “universal” dan “kekal”, maka mukjizatnya harus retoris (bayaniyyah), linguistik (lisaniyyah) yang kekal. Dan Allah telah berjanji untuk memelihara Al-Qur’an, seperti yang Ia jelaskan, “Sesungguhnya Kami yang menurunkan al-Dzikra (Al-Qur’an) dan Kami pula yang memeliharanya.” (Qs. 15: 9).

Keempat, menurut Syeikhu’l-Islam, Ibnu Taimiyah, “Taurat diturunkan dalam bahasa Ibrani saja. Dan Musa ‘alayhissalam tidak berbicara kecuali dengan bahasa itu. Begitu juga halnya dengan al-Masih: tidak berbicara tentang Taurat dan Injil serta perkara lain kecuali dengan bahasa Ibrani. Begitu juga dengan seluruh kitab. Ia tidak diturunkan kecuali dengan “satu bahasa” (bilisanin wahidin): dengan bahasa yang dengannya diturunkan kitab-kitab tersebut dan bahasa kaumnya yang diseru oleh para rasul.

Seluruh para Nabi, menyeru manusia lewat bahasa kaumnya yang mereka ketahui. Setelah itu, kitab-kitab dan perkataan para Nabi itu disampaikan: apakah diterjemahkan untuk mereka yang tidak tahu bahasa kitab tersebut, atau orang-orang belajar bahasa kitab tersebut sehingga mereka mengerti makna-maknanya. Atau, seorang utusan menjelaskan makna-makna apa yang dengannya ia diutus oleh Rasul dengan bahasanya…” (Lihat, Ibnu Taimiyah, al-Jawb al-Shahih liman Baddala Dina’l-Masih (Jawaban Yang Benar, Bagi Perubah Agama Kristus), (Cairo: Dar Ibnu al-Haytsam, 2003, jilid 1 (2 jilid), hlm. 188-189).

Sebagaimana Taurat dan Injil, Al-Quran diturunkan dalam satu bahasa, bahasa kaumnya. Bedanya, kenabian yang ada sebelum Islam, hanya diperuntukkan pada kaum tertentu atau zaman tertentu (lokalitas) saja. Nuh misalnya, hanya diutus kepada kaumnya (QS. 7: 59); Hud kepada kaumnya (QS. 7: 65); Shaleh kepada kaumnya (QS. 7: 73); Luth kepada kaumnya (QS. 7: 80); Syu‘aib kepada kaumnya (QS. 7: 85); dan Musa kepada Fir‘aun dan para punggawanya (QS. 7: 103).

Dakwah Nabi SAW di “Ummu’l-Qura”, sebagaimana arti yang sudah dijelaskan panjang lebar, bukan hanya dalam pengertian Mekkah semata. Juga bukan hanya untuk orang Quraisy, tidak pula untuk Jazirah Arabia saja, tapi untuk seluruh alam. (Baca QS. 25: 1, 34: 28, 7: 158, dan 9: 33).

Jika kalangan Nasrani menganggap Al-Quran tidak universal, maka, seharusnya yang lebih tidak universal justru Bible.

Meski bahasa Arab adalah bahasa yang rumit, namun bukanlah hal susah bagi umat Islam menghapalkannya. Ini berbeda dengan kitab suci lain, sebagaimana Bible misalnya. Keuniversalan Al-Quran lainnya, dibuktikan dengan bagaimana Allah menjaganya melalui orang-orang alim dan yang memiliki kelebihan dalam menghapalkannya (tahfiz). Meski terdiri dari ribuan ayat, dalam sejarah, selalu saja banyak orang mampu menghapalkannya secara cermat dan tepat. Hatta, ia orang buta atau anak kecil sekalipun. Al-Quran, mudah dihapal atau dilantunkan dengan gaya apapun. Diakui atau tidak, ini berbeda dengan Bible atau Injil.

Karena itu, setiap usaha apapun untuk menambah atau mengurangi Al-Quran baik yang dilakukan kalangan orientalis atau orang kafir dalam sepanjang sejarah selalu saja ketahuan. Jangan heran bila banyak umat Islam tiba-tiba ribut gara-gara ada Al-Quran palsu atau sengaja dipalsukan sebagaimana terjadi dalam kasus “The True Furqon.” Barangkali itulah cara Allah menjaganya.

Dan hebatnya, para penghapal Al-Quran, setiap saat selalu saja lahir dan bisa ditemukan di seluruh dunia. Untuk yang seperti ini, di Indonesia, bahkan sudah mulai banyak dijadikan sebagai pesantren-pesantran formal.

Sebaliknya, bagi kita, belum pernah terdengar ada orang Kristen atau Yahudi yang hapal keseluruhan kitab suci mereka. Bahkan termasuk pendeta atau pastur sekalipun. Mengapa bisa demikian? Saya kira Anda lebih tahu jawabannya. Wallahu a‘lamu bi al-shawab.

Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi, saat tulisan ini dibuat pada 2008, penulis adalah mahasiswa Jurusan Tafsir dan Ulumul Quran di Universitas Al-Azhar, peminat Qur’anic Studies and Christology.

Kenali Tanda Awal Serangan Jantung

Tipsiana.com - Salah satu penyakit paling mematikan saat ini adalah serangan jantung. Tekanan hidup ditambah dengan pola makan tidak sehat yang selalu kita jalani, adalah penyebab utama mengapa penyakit ini kian umum menyerang masyarakat.

Melakoni gaya hidup sehat dengan banyak berolahraga dan selalu berusaha mengatur tingkat stres dapat secara signifikan menurunkan resiko terkena serangan jantung. Tapi hal penting lain yang sangat berguna bahkan dapat menyelamatkan nyawa adalah paham dan awas pada gejala serangan jantung yang akan terjadi, biasanya sebulan sebelum serangan.


Gejala-gejala berikut dapat menjadi tanda peringatan terhadap kemungkinan akan terjadinya serangan. Jika Anda mengalami gejala-gejala berikut, segera datangi dokter dan lakukan pemeriksaan intensif. Bahkan jika ternyata yang sedang Anda alami bukanlah sesuatu yang seserius serangan jantung, bukankah lebih baik mencegah daripada menyesal kemudian?

1. Kelelahan tanpa sebab

Ketika Anda menjadi sempit, jantung Anda menerima lebih sedikit darah daripada biasanya. Akibatnya, jantung Anda harus bekerja lebih berat, membuat Anda merasa lelah dan mengantuk setiap saat.

2. Sesak nafas

Bila jantung Anda kurang mendapat darah daripada biasanya, paru-paru Anda tidak akan mendapatkan cukup oksigen. Ini karena kedua sistem bergantung satu sama lain. Jika Anda mengalami kesulitan bernafas tanpa ada riwayat penyakit asma, sebaiknya segera ke dokter Anda, karena ini bisa berarti serangan jantung terjadi di sekitar jalan.

3. Menjadi lesu 

Ketika tiba-tiba seluruh badan Anda menjadi ringkih dan lesu, ini terjadi karena ada saluran arteri yang tidak mengalirkan darah dengan seharusnya. Sirkulasi darah yang buruk akan membuat otot-otot kurang mendapat pasokan oksigen. Dan ahsilnya, Anda akan merasa lamah dan lesu bahkan samapi bisa jatuh pingsan.


4. Gejala Flu dan Demam

Jika Anda mengalami gejala flu tanpa sebab, ini saja menjadi tanda serangan jantung akan segera datang tak lama lagi. Banyak orang yang mendapat serangan jantung mengatakan mereka mengalami gejala demam sebelum terkena serangan.

5. Pusing dan keluar keringat dingin

Sirkulasi yang buruk juga akan menghambat aliran darah ke otak. Akibatnya, Anda akan mengalami pusing dan berkeringat dingin. Jangan sepelekan tanda ini.

6. Dada terasa seperti tertekan

Jika Anda mengalami gejala serangan jantung, kemungkinan Anda akan merasakan ketidaknyamanan di dada, apakah itu berupa sakit ringan atau merasa dada seperti ditekan (orang Indonesia sering menyebutnya sebagai angin duduk). Ketidaknyamanan ini berangsur-angsur akan meningkat sampai serangan jantung benar-benar terjadi.

Sumber : http://www.ba-bamail.com/content.aspx?emailid=23704

7 Desember 2017

Rumah Tak Berlistrik, Anak Ini Belajar Di Stasiun Kereta Setiap Malam

Tipsiana.com - Pendidikan adalah sesuatu yang takkan pernah bisa hilang atau tercuri. Sayangnya, kadang kita tak mudah untuk mendapatkannya. Di banyak negara di dunia, kemiskinan telah menjadi penghalang bagi anak untuk mendapatkan pendidikan.

Meskipun ada sekolah yang menawarkan pendidikan gratis, banyak orangtua yang belum mampu memberikan dukungan fasilitas bagi anak-anak mereka. Bahkan, anak-anak yang tinggal di wilayah yang sangat miskin tidak bisa belajar dengan nyaman di rumah akibat ketiadaan listrik.


Seorang anak perempuan bernama Divya terlihat pergi ke stasiun kereta api untuk mengerjakaan tugas sekolahnya setiap malam. Ia berjalan ke stasiun kereta di Uttar Pradesh, India dengan bertelanjang kaki sambil membawa tas berisi buku pelajaran. Ia kemudian duduk dilantai stasiun diantara keramaian dan tekun belajar tanpa peduli dengan orang-orang yang melihatya dengan heran.


Seorang pria bernama Rajesh Kumar memperhatikan kebiasaan Divya dan memutuskan memfoto anak tersebut. Sang anak tampak tak terpengaruh dengan perhatian orang-orang dan tetap fokus pada PR-nya.


Ternyata, Divya tinggal di sebuah perkampungan miskin yng tidak mendapat aliran listrik sehingga ia harus pergi ke stasiun kereta agar mendapat penerangan yang cukup untuk belajar. Ia bercerita tentang kondisi rumahnya kepada Rajesh.


Wilayah Uttar Pradesh dikenal sebagai kota dengan jumlah penduduk terbanyak dan salah satu wilayah termiskin di India dimana seperlima dari penduduknya berasal dari kelas bawah dan memegang posisi terendah dalam sistem kasta India.

Saat Rajesh membagikan fotonya ke media sosial, banyak warganet yang kagum pada gadis cilik tersebut dan berharap semoga ia dapat segera mendapat bantuan.

4 Desember 2017

Shalahuddin Al Ayyubi, Pahlawan Islam dari Seratus Medan Pertempuran

Tipsiana.com - Beberapa hari yang lalu, kita baru saja merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tak salah kali ini kita akan menceritakan sosok yang mendengungkan peringatan Maulid Nabi SAW untuk pertama kalinya. Ialah Shalahuddin Al-Ayyubi. Dunia barat mengenalnya sebagai Saladin. Ia adalah raja legendaris yang mampu merebut kembali kota Jerussalam yang selama 100 tahun dijajah Kristen. Ia membebaskan Jerussalaem dengan cara yang elegan yang terus dikenang baik oleh kawan maupun lawan hingga kini.

Ia mampu membangkitkan ghirah ummat untuk bangkit dari keterpurukan dengan cara menggali kembali nilai-nilai keteladanan Nabi SAW. Tulisan yang dinukil dari hudzhaifah.org ini akan membawa kita ke masa bangkitnya Islam dengan gemilang dan penuh martabat.


Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi (1137 – 1193 M), namanya telah terpateri di hati sanubari pejuang Muslim yang memiliki jiwa patriotik dan heroik, telah terlanjur terpahat dalam sejarah perjuangan umat Islam karena telah mampu menyapu bersih, menghancurleburkan tentara salib yang merupakan gabungan pilihan dari seluruh benua Eropa.

Konon guna membangkitkan kembali ruh jihad atau semangat di kalangan Islam yang saat itu telah tidur nyenyak dan telah lupa akan tongkat estafet yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad saw., maka Salahuddinlah yang mencetuskan ide dirayakannya kelahiran Nabi Muhammad saw. Melalui media peringatan itu dibeberkanlah sikap ksatria dan kepahlawanan pantang menyerah yang ditunjukkan melalui “Siratun Nabawiyah”. Hingga kini peringatan itu menjadi tradisi dan membudaya di kalangan umat Islam.

Jarang sekali dunia menyaksikan sikap patriotik dan heroik bergabung menyatu dengan sifat perikemanusian seperti yang terdapat dalam diri pejuang besar itu. Rasa tanggung jawab terhadap agama (Islam) telah ia baktikan dan buktikan dalam menghadapi serbuan tentara ke tanah suci Palestina selama dua puluh tahun, dan akhirnya dengan kegigihan, keampuhan dan kemampuannya dapat memukul mundur tentara Eropa di bawah pimpinan Richard Lionheart dari Inggris.

Hendaklah diingat, bahwa Perang Salib adalah peperangan yang paling panjang dan dahsyat penuh kekejaman dan kebuasan dalam sejarah umat manusia, memakan korban ratusan ribu jiwa, di mana topan kefanatikan membabi buta dari Kristen Eropa menyerbu secara menggebu-gebu ke daerah Asia Barat yang Islam.

Seorang penulis Barat berkata, “Perang Salib merupakan salah satu bagian sejarah yang paling gila dalam riwayat kemanusiaan. Umat Nasrani menyerbu kaum Muslimin dalam ekspedisi bergelombang selama hampir tiga ratus tahun sehingga akhirnya berkat kegigihan umat Islam mereka mengalami kegagalan, berakibat kelelahan dan keputusasaan. Seluruh Eropa sering kehabisan manusia, daya dan dana serta mengalami kebangkrutan sosial, bila bukan kehancuran total. Berjuta-juta manusia yang tewas dalam medan perang, sedangkan bahaya kelaparan, penyakit dan segala bentuk malapetaka yang dapat dibayangkan berkecamuk sebagai noda yang melekat pada muka tentara Salib. Dunia Nasrani Barat saat itu memang dirangsang ke arah rasa fanatik agama yang membabi buta oleh Peter The Hermit dan para pengikutnya guna membebaskan tanah suci Palestina dari tangan kaum Muslimin”.


“Setiap cara dan jalan ditempuh”, kata Hallam guna membangkitkan kefanatikan itu. Selagi seorang tentara Salib masih menyandang lambang Salib, mereka berada di bawah lindungan gereja serta dibebaskan dari segala macam pajak dan juga untuk berbuat dosa.

Peter The Hermit sendiri memimpin gelombang serbuan yang kedua terdiri dari empat puluh ribu orang. Setelah mereka sampai ke kota Malleville mereka menebus kekalahan gelombang serbuan pertama dengan menghancurkan kota itu, membunuh tujuh ribu orang penduduknya yang tak bersalah, dan melampiaskan nafsu angkaranya dengan segala macam kekejaman yang tak terkendali. Gerombolan manusia fanatik yang menamakan dirinya tentara Salib itu mengubah tanah Hongaria dan Bulgaria menjadi daerah-daerah yang tandus.

“Bilamana mereka telah sampai ke Asia Kecil, mereka melakukan kejahatan-kejahatan dan kebuasan-kebuasan yang membuat alam semesta menggeletar” demikian tulis pengarang Perancis Michaud.

Gelombang serbuan tentara Salib ketiga yang dipimpin oeh seorang Rahib Jerman, menurut pengarang Gibbon terdiri dari sampah masyarakat Eropa yang paling rendah dan paling dungu. Bercampur dengan kefanatikan dan kedunguan mereka itu izin diberikan guna melakukan perampokan, perzinaan dan bermabuk-mabukan. Mereka melupakan Konstantin dan Darussalam dalam kemeriahan pesta cara gila-gilaan dan perampokan, pengrusakan dan pembunuhan yang merupakan peninggalan jelek dari mereka atas setiap daerah yang mereka lalui” kata Marbaid.

Gelombang serbuan tentara Salib keempat yang diambil dari Eropa Barat, menurut keterangan penulis Mill “terdiri dari gerombolan yang nekat dan ganas. Massa yang membabi buta itu menyerbu dengan segala keganasannya menjalankan pekerjaan rutinnya merampok dan membunuh. Tetapi akhirnya mereka dapat dihancurkan oleh tentara Hongaria yang naik pitam dan telah mengenal kegila-gilaan tentara Salib sebelumnya.

Tentara Salib telah mendapat sukses sementara dengan menguasai sebagian besar daerah Syria dan Palestina termasuk kota suci Yerusalem. Tetapi Kemenangan-kemenangan mereka ini telah disusul dengan keganasan dan pembunuhan terhadap kaum Muslimin yang tak bersalah yang melebihi kekejaman Jengis Khan dan Hulagu Khan.

John Stuart Mill ahli sejarah Inggris kenamaan, mengakui pembunuhan-pembunuhan massal penduduk Muslim ini pada waktu jatuhnya kota Antioch. Mill menulis: “Keluruhan usia lanjut, ketidakberdayaan anak-anak dan kelemahan kaum wanita tidak dihiraukan sama sekali oleh tentara Latin yang fanatik itu. Rumah kediaman tidak diakui sebagai tempat berlindung dan pandangan sebuah masjid merupakan pembangkit nafsu angkara untuk melakukan kekejaman. Tentara Salib menghancurleburkan kota-kota Syria, membunuh penduduknya dengan tangan dingin, dan membakar habis perbendaharaan kesenian dan ilmu pengetahuan yang sangat berharga, termasuk “Kutub Khanah” (Perpustakaan) Tripolis yang termasyhur itu. “Jalan raya penuh aliran darah, sehingga keganasan itu kehabisan tenaga,” kata Stuart Mill. Mereka yang cantik rupawan disisihkan untuk pasaran budak belian di Antioch. Tetapi yang tua dan yang lemah dikorbankan di atas panggung pembunuhan.

Lewat pertengahan abad ke-12 Masehi ketika tentara Salib mencapai puncak kemenangannya dan Kaisar Jerman, Perancis serta Richard Lionheart Raja Inggris telah turun ke medan pertempuran untuk turut merebut tanah suci Baitul Maqdis, gabungan tentara Salib ini disambut oleh Sultan Shalahuddin al Ayyubi (biasa disebut Saladin), seorang Panglima Besar Muslim yang menghalau kembali gelombang serbuan umat Nasrani yang datang untuk maksud menguasai tanah suci. Dia tidak saja sanggup untuk menghalau serbuan tentara Salib itu, akan tetapi yang dihadapi mereka sekarang ialah seorang yang berkemauan baja serta keberanian yang luar biasa yang sanggup menerima tantangan dari Nasrani Eropa.

Siapakah Shalahuddin? Bagaimana latar belakang kehidupannya?

Shalahuddin dilahirkan pada tahun 1137 Masehi. Pendidikan pertama diterimanya dari ayahnya sendiri yang namanya cukup tersohor, yakni Najamuddin al-Ayyubi. Di samping itu pamannya yang terkenal gagah berani juga memberi andil yang tidak kecil dalam membentuk kepribadian Shalahuddin, yakni Asaduddin Sherkoh. Kedua-duanya adalah pembantu dekat Raja Syria Nuruddin Mahmud.

Asaduddin Sherkoh, seorang jenderal yang gagah berani, adalah komandan Angkatan Perang Syria yang telah memukul mundur tentara Salib baik di Syria maupun di Mesir. Sherkoh memasuki Mesir dalam bulan Februari 1167 Masehi untuk menghadapi perlawanan Shawer seorang menteri khalifah Fathimiyah yang menggabungkan diri dengan tentara Perancis. Serbuan Sherkoh yang gagah berani itu serta kemenangan akhir yang direbutnya dari Babain atas gabungan tentara Perancis dan Mesir itu menurut Michaud “memperlihatkan kehebatan strategi tentara yang bernilai tinggi”.

Ibnu Aziz AI Athir menulis tentang serbuan panglima Sherkoh ini sebagai berikut: “Belum pernah sejarah mencatat suatu peristiwa yang lebih dahsyat dari penghancuran tentara gabungan Mesir dan Perancis dari pantai Mesir, oleh hanya seribu pasukan berkuda”.

Pada tanggal 8 Januari 1169 M Sherkoh sampai di Kairo dan diangkat oleh Khalifah Fathimiyah sebagai Menteri dan Panglima Angkatan Perang Mesir. Tetapi sayang, Sherkoh tidak ditakdirkan untuk lama menikmati hasil perjuangannya. Dua bulan setelah pengangkatannya itu, dia berpulang ke rahmatullah.

Sepeninggal Sherkoh, keponakannya Shalahuddin al-Ayyubi diangkat jadi Perdana Menteri Mesir. Tak seberapa lama ia telah disenangi oleh rakyat Mesir karena sifat-sifatnya yang pemurah dan adil bijaksana itu. Pada saat khalifah berpulang ke rahmatullah, Shalahuddin telah menjadi penguasa yang sesungguhnya di Mesir.

Di Syria, Nuruddin Mahmud yang termasyhur itu meninggal dunia pada tahun 1174 Masehi dan digantikan oleh putranya yang berumur 11 tahun bernama Malikus Saleh. Sultan muda ini diperalat oleh pejabat tinggi yang mengelilinginya terutama (khususnya) Gumushtagin. Shalahuddin mengirimkan utusan kepada Malikus Saleh dengan menawarkan jasa baktinya dan ketaatannya. Shalahuddin bahkan melanjutkan untuk menyebutkan nama raja itu dalam khotbah-khotbah Jumatnya dan mata uangnya. Tetapi segala macam bentuk perhatian ini tidak mendapat tanggapan dari raja muda itu berserta segenap pejabat di sekelilingnya yang penuh ambisi itu. Suasana yang meliputi kerajaan ini sekali lagi memberi angin kepada tentara Salib, yang selama ini dapat ditahan oleh Nuruddin Mahmud dan panglimanya yang gagah berani, Jenderal Sherkoh.

Atas nasihat Gumushtagin, Malikus Saleh mengundurkan diri ke kota Aleppo, dengan meninggalkan Damaskus diserbu oleh tentara Perancis. Tentara Salib dengan segera menduduki ibukota kerajaan itu, dan hanya bersedia untuk menghancurkan kota itu setelah menerima uang tebusan yang sangat besar. Peristiwa itu menimbulkan amarah Shalahuddin al-Ayyubi yang segera ke Damaskus dengan suatu pasukan yang kecil dan merebut kembali kota itu.

Setelah ia berhasil menduduki Damaskus dia tidak terus memasuki istana rajanya Nuruddin Mahmud, melainkan bertempat di rumah orang tuanya. Umat Islam sebaliknya sangat kecewa akan tingkah laku Malikus Saleh. dan mengajukan tuntutan kepada Shalahuddin untuk memerintah daerah mereka. Tetapi Shalahuddin hanya mau memerintah atas nama raja muda Malikus Saleh. Ketika Malikus Saleh meninggal dunia pada tahun 1182 Masehi, kekuasaan Shalahuddin telah diakui oleh semua raja-raja di Asia Barat.

Diadakanlah gencatan senjata antara Sultan Shalahuddin dan tentara Perancis di Palestina, tetapi menurut ahli sejarah Perancis Michaud: “Kaum Muslimin memegang teguh perjanjiannya, sedangkan golongan Nasrani memberi isyarat untuk memulai lagi peperangan.” Berlawanan dengan syarat-syarat gencatan senjata, penguasa Nasrani Renanud atau Reginald dari Castillon menyerang suatu kafilah Muslim yang lewat di dekat istananya, membunuh sejumlah anggotanya dan merampas harta bendanya.

Lantaran peristiwa itu Sultan sekarang bebas untuk bertindak. Dengan siasat perang yang tangkas Sultan Shalahuddin mengurung pasukan musuh yang kuat itu di dekat bukit Hittin pada tahun 1187 M serta menghancurkannya dengan kerugian yang amat besar. Sultan tidak memberikan kesempatan lagi kepada tentara Nasrani untuk menyusun kekuatan kembali dan melanjutkan serangannya setelah kemenangan di bukit Hittin. Dalam waktu yang sangat singkat dia telah dapat merebut kembali sejumlah kota yang diduduki kaum Nasrani, termasuk kota-kota Naplus, Jericho, Ramlah, Caosorea, Arsuf, Jaffa dan Beirut. Demikian juga Ascalon telah dapat diduduki Shalahuddin sehabis pertempuran yang singkat yang diselesaikan dengan syarat-syarat yang sangat ringan oleh Sultan yang berhati mulia itu.

Di tahun 1187 Shalahuddin, Sultan Mesir dan Suriah, menghancurkan tentara tentara salib Yerusalem di Tanduk Hattin, Palestina.


Sekarang Shalahuddin menghadapkan perhatian sepenuhnya terhadap kota Jerusalem yang diduduki tentara Salib dengan kekuatan melebihi enam puluh ribu prajurit. Ternyata tentara salib ini tidak sanggup menahan serbuan pasukan Sultan dan menyerah pada tahun 1193. Sikap penuh perikemanusiaan Sultan Shalahuddin dalam memperlakukan tentara Nasrani itu merupakan suatu gambaran yang berbeda seperti langit dan bumi, dengan perlakuan dan pembunuhan secara besar-besaran yang dialami kaum Muslimin ketika dikalahkan oleh tentara Salib sekitar satu abad sebelumnya.

Menurut penuturan ahli sejarah Michaud, pada waktu Jerusalem direbut oleh tentara Salib pada tahun 1099 Masehi, kaum Muslimin dibunuh secara besar-besaran di jalan-jalan raya dan di rumah-rumah kediaman. Jerusalem tidak memiliki tempat berlindung bagi umat Islam yang menderita kekalahan itu. Ada yang melarikan diri dari cengkeraman musuh dengan menjatuhkan diri dari tembok-tembok yang tinggi, ada yang lari masuk istana, menara-menara, dan tak kurang pula yang masuk masjid. Tetapi mereka tidak terlepas dari kejaran tentara Salib. Tentara Salib yang menduduki masjid Umar di mana kaum Muslimin dapat bertahan untuk waktu yang singkat. mengulangl lagi tindakan-tindakan yang penuh kekejaman. Pasukan infanteri dan kavaleri menyerbu kaum pengungsi yang lari tunggang langgang. Di tengah-tengah kekacaubalauan kaum peenyerbu itu yang terdengar hanyalah erangan dan teriakan maut. Pahlawan Salib yang berjasa itu berjalan menginjak-injak tumpukan mayat Muslimin, mengejar mereka yang masih berusaha dengan sia-sia melarikan diri. Raymond d’ Angiles yang menyaksikan peristiwa itu mengatakan bahwa “di serambi masjid mengalir darah sampai setinggi lutut, dan sampai ke tali tukang kuda prajurit”.


Penyembelihan manusia biadab ini berhenti sejenak, ketika tentara Salib berkumpul untuk melakukan misa syukur atas kemenangan yang telah mereka peroleh. Tetapi setelah beribadah itu, mereka melanjutkan kebiadaban dengan keganasan. “Semua tawanan” kata Michaud, “yang tertolong nasibnya karena kelelahan tentara Salib yang semula tertolong karena mengharapkan diganti dengan uang tebusan yang besar, semua dibunuh dengan tanpa ampun. Kaum Muslimin terpaksa menjatuhkan diri mereka dari menara dan rumah kediaman; mereka dibakar hidup-hidup, mereka diseret dari tempat persembunyiannya di bawah tanah; mereka dipancing dari tempat perlindungannya agar keluar untuk dibunuh di atas timbunan mayat”.

Cucuran air mata kaum wanita, pekikan anak-anak yang tak bersalah, bahkan juga kenangan dari tempat di mana Nabi lsa memaafkan algojo-algojonya, tidak dapat meredakan nafsu angkara tentara yang menang itu. Penyembelihan kejam itu berlangsung selama seminggu. Dan sejumlah kecil yang dapat melarikan diri dari pembunuhan jatuh menjadi budak yang hina dina.

Seorang ahli sejarah Barat, Mill menambahkan pula: “Telah diputuskan, bahwa kaum Muslimin tidak boleh diberi ampun. Rakyat yang ditaklukkan oleh karena itu harus diseret ke tempat-tempat umum untuk dibunuh hidup-hidup. Ibu-ibu dengan anak yang melengket pada buah dadanya, anak-anak laki-laki dan perempuan, seluruhnya disembelih. Lapangan-Iapangan kota, jalan-jalan raya, bahkan pelosok-pelosok Jerusalem yang sepi telah dipenuhi oleh bangkai-bangkai mayat laki-laki dan perempuan, dan anggota tubuh anak-anak. Tiada hati yang menaruh belas kasih atau teringat untuk berbuat kebajikan”.

Demikianlah rangkaian riwayat pembantaian secara masal kaum Muslimin di Jerusalem sekira satu abad sebelum Sultan Shalahuddin merebut kembali kota suci, di mana lebih dari tujuh puluh ribu umat Islam yang tewas.

Sebaliknya, ketika Sultan Shalahuddin merebut kembali kota Jerusalem pada tahun 1193 M, dia memberi pengampunan umum kepada penduduk Nasrani untuk tinggal di kota itu. Hanya para prajurit Salib yang diharuskan meninggalkan kota dengan pembayaran uang tebusan yang ringan. Bahkan sering terjadi bahwa Sultan Shalahuddin yang mengeluarkan uang tebusan itu dari kantongnya sendiri dan diberikannya pula kemudian alat pengangkutan. Sejumlah kaum wanita Nasrani dengan mendukung anak-anak mereka datang menjumpai Sultan dengan penuh tangis seraya berkata: “Tuan saksikan kami berjalan kaki, para istri serta anak-anak perempuan para prajurit yang telah menjadi tawanan Tuan, kami ingin meninggalkan negeri ini untuk selama-lamanya. Para prajurit itu adalah tumpuan hidup kami. Bila kami kehilangan mereka akan hilang pulalah harapan kami. Bilamana Tuan serahkan mereka kepada kami mereka akan dapat meringankan penderitaan kami dan kami akan mempunyai sandaran hidup”.

Shalahuddin Al Ayyubi memasuki kota Jerussalem

Sultan Shalahuddin sangat tergerak hatinya dengan permohonan mereka itu dan dibebaskannya para suami kaum wanita Nasrani itu. Mereka yang berangkat meninggalkan kota, diperkenankan membawa seluruh harta bendanya. Sikap dan tindakan Sultan Shalahuddin yang penuh kemanusiaan serta dari jiwa yang mulia ini memperlihatkan suasana kontras yang sangat mencolok dengan penyembelihan kaum Muslimin di kota Jerusalem dalam tangan tentara Salib satu abad sebelumnya. Para komandan pasukan tentara Shalahuddin saling berlomba dalam memberikan pertolongan kepada tentara Salib yang telah dikalahkan itu.

Para pelarian Nasrani dari kota Jerusalem itu tidaklah mendapat perlindungan oleh kota-kota yang dikuasai kaum Nasrani. “Banyak kaum Nasrani yang meninggalkan Jerusalem” kata Mill, pergi menuju Antioch, tetapi panglima Nasrani Bohcmond tidak saja menolak memberikan perlindungan kepada mereka, bahkan merampasi harta benda mereka. Maka pergilah mereka menuju ke tanah kaum Muslimin dan diterima di sana dengan baik. Michaud mcmberikan keterangan yang panjang lebar tentang sikap kaum Nasrani yang tak berperikemanusiaan ini terhadap para pelarian Nasrani dari Jerusalem. Tripoli menutup pintu kotanya dari pengungsi ini, kata Michaud “Seorang wanita karena putus asa melemparkan anak bayinya ke dalam laut sambil menyumpahi kaum Nasrani yang menolak untuk memberikan pertolongan kepadanya”, kata Michaud. Sebaliknya Sultan Shalahuddin bersikap penuh timbang rasa terhadap kaum Nasrani yang ditaklukkan itu. Sebagai pertimbangan terhadap perasaan mereka, dia tidak memasuki Jerusalem sebelum mereka meninggalkannya.

Dari Jerusalem Sultan Shalahuddin mengarahkan pasukannya ke kota Tyre, di mana tentara Salib yang tidak tahu berterima kasih terhadap Sultan Shalahuddin yang telah mengampuninya di Jerusalem, menyusun kekuatan kembali untuk melawan Sultan. Sultan Shalahuddin menaklukkan sejumlah kota yang diduduki oleh tentara Salib di pinggir pantai, termasuk kota Laodicea, Jabala, Saihun, Becas, dan Debersak. Sultan telah melepas hulu balang Perancis bernama Guy de Lusignan dengan perjanjian, bahwa dia harus segera pulang ke Eropa. Tetapi tidak lama setelah pangeran Nasrani yang tak tahu berterima kasih ini mendapatkan kebebasannya, dia mengingkari janjinya dan mengumpulkan suatu pasukan yang cukup besar dan mengepung kota Ptolemais.

'Saladin dan Guy de Lusignan' yang menggambarkan berakhirnya Pertempuran Hattin

Jatuhnya Jerusalem ke tangan kaum Muslimin menimbulkan kegusaran besar di kalangan dunia Nasrani. Sehingga mereka segera mengirimkan bala bantuan dari seluruh pelosok Eropa. Kaisar Jerman dan Perancis serta raja Inggris Richard Lion Heart segera berangkat dengan pasukan yang besar untuk merebut tanah suci dari tangan kaum Muslimin. Mereka mengepung kota Akkra yang tidak dapat direbut selama berapa bulan. Dalam sejumlah pertempuran terbuka, tentara Salib mengalami kekalahan dengan meninggalkan korban yang cukup besar.

Sekarang yang harus dihadapi Sultan Shalahuddin ialah berupa pasukan gabungan dari Eropa. Bala bantuan tentara Salib mengalir ke arah kota suci tanpa putus-putusnya, dan sungguh pun kekalahan dialami mereka secara bertubi-tubi, namun demikian tentara Salib ini jumlah semakin besar juga. Kota Akkra yang dibela tentara Islam berbulan-bulan lamanya menghadapi tentara pilihan dari Eropa, akhirnya karena kehabisan bahan makanan terpaksa menyerah kepada musuh dengan syarat yang disetujui bersama secara khidmat, bahwa tidak akan dilakukan pembunuhan-pembunuhan dan bahwa mereka diharuskan membayar uang tebusan sejumlah 200.000 emas kepada pimpinan pasukan Salib. Karena kelambatan dalam suatu penyelesaian uang tebusan ini, Raja Richard Lionheart menyuruh membunuh kaum Muslimin yang tak berdaya itu dengan dan hati yang dingin di hadapan pandangan mata saudara sesama kaum Muslimin.

Perilaku Raja Inggris ini tentu saja sangat menusuk perasaan hati Sultan Shalahuddin. Dia bernadzar untuk menuntut bela atas darah kaum Muslimin yang tak bersalah itu. Dalam pertempuran yang berkecamuk sepanjang 150 mil garis pantai, Sultan Shalahuddin memberikan pukulan-pukulan yang berat terhadap tentara Salib.

Akhirnya Raja Inggris yang berhati singa itu mengajukan permintaan damai yang diterima oleh Sultan. Raja itu merasakan bahwa yang dihadapinya adalah seorang yang berkemauan baja dan tenaga yang tak terbatas serta menyadari betapa sia-sianya melanjutkan perjuangan terhadap orang yang demikian itu. Dalam bulan September 1192 Masehi dibuatlah perjanjian perdamaian. Tentara Salib itu meninggalkan tanah suci dengan ransel dengan barang-barangnya kembali menuju Eropa.

“Berakhirlah dengan demikian serbuan tentara Salib itu” tulis Michaud “di mana gabungan pasukan pilihan dari Barat merebut kemenangan tidak lebih daripada kejatuhan kota Akkra dan kehancuran kota Askalon. Dalam pertempuran itu Jerman kehilangan seorang kaisarnya yang besar beserta kehancuran tentara pilihannya. Lebih dari enam ratus ribu orang pasukan Salib mendarat di depan kota Akkra dan yang kembali pulang ke negerinya tidak lebih dari seratus ribu orang. Dapatlah dipahami mengapa Eropa dengan penuh kesedihan menerima hasil perjuangan tentara Salib itu, oleh karena yang turut dalam pertempuran terakhir adalah tentara pilihan. Bunga kesatria Barat yang menjadi kebanggaan Eropa telah turut dalam pertempuran ini.

Sultan Shalahuddin mengakhiri sisa-sisa hidupnya dengan kegiatan-kegiatan bagi kesejahteraan masyarakat dengan membangun rumah sakit, sekolah-sekolah, perguruan-perguruan tinggi serta masjid-masjid di seluruh daerah yang diperintahnya.

Tetapi sayang, dia tidaklah ditakdirkan untuk lama merasakan nikmat perdamaian. Beberapa bulan kemudian dia pulang ke rahmatullah pada tanggal 4 Maret tahun 1193. “Hari itu merupakan hari musibah besar, yang belum pernah dirasakan oleh dunia Islam dan kaum Muslimin, semenjak mereka kehilangan Khulafa Ar-Rasyidin” demikian tulis seorang penulis Islam. Kalangan Istana seluruh daerah kerajaan berikut seluruh umat Islam tenggelam dalam lautan duka nestapa. Seluruh isi kota mengikuti usungan jenazahnya ke kuburan dengan penuh kesedihan dan tangisan.

Demikianlah berakhirnya kehidupan Sultan Shalahuddin, seorang raja yang sangat dalam perikemanusiaannya dan tak ada tolok bandingannya, jiwa kepahlawanan yang dimilikinya dalam sejarah kemanusiaan. Dalam pribadinya, Allah telah melimpahkan hati seorang Muslim yang penuh kasih sayang terhadap kemanusiaan dicampur dengan sangat harmonis dengan keperkasaan seorang genius dalam medan pertempuran. Utusan yang menyampaikan berita kematiannnya itu ke Baghdad membawa serta baju perangnya, kudanya, uang sebanyak satu dinar dan 36 dirham sebagai milik pribadinya yang masih ketinggalan. Orang yang hidup satu zaman dengannya, serta segenap ahli sejarah sama sependapat bahwa Sultan Shalahuddin adalah seorang yang sangat lemah lembut hatinya, ramah tamah, sabar, seorang sahabat yang baik dari kaum cendekiawan dan golongan ulama yang diperlakukannya dengan rasa hormat yang mendalam serta dengan penuh kebajikan. “Di Eropa” tulis Philip K Hitti, dia telah menyentuh alam khayalan para penyanyi maupun para penulis novel zaman sekarang, dan masih tetap dinilai sebagai suri teladan kaum kesatria.

Semoga Allah melapangkan kuburnya.

Disarikan dari:
1. Shalahuddin al-Ayyubi, oleh Kwaja Jamil Ahmad (Lihat: Suara Masjid No. 91, Jumadil Akhir-Rajab 1402 H/April 1982 M)
2. The Preaching of Islam, oleh Thomas W. Arnold.

NB:
– “Shalahuddin”, kadang ditulis dengan ejaan: Saladin (biasanya oleh Barat), Sholahuddin, atau Salahuddin.
– Sineas Barat membuat film berjudul “Kingdom of Heaven”. Film tersebut, terlepas benar atau tidaknya isi cerita, berkaitan dengan tokoh Shalahuddin ini.
– Buku yang juga membahas tentang salahuddin adalah “Perang Suci, Penulis :Karen Amstrong”.